Tausyiah

Hasan Al-Banna
Seorang da'i itu, jika dalam kelas ia menjadi yang paling cerdas, seolah dihabiskan hidupnya untuk belajar. Jika di tempat olahraga ia menjadi yang paling tangkas, seolah hidupnya dihabiskan untuk berlatih. Jika di majelis Al-Qur'an ia menjadi yang paling fasih dan banyak hafalannya, seolah hidupnya dihabiskan untuk menghafal. Dan dalam proyek-proyek dakwah mejadi yang terdepan, seolah habis hidupnya untuk proyek-proyek dakwah tersebut.

Kamis, 18 April 2013

Kisahku: "Masa Kecil ku"


Angin yang sangat sejuk itu mengibas-ngibaskan jilbabku yang panjang, terpaannya begitu lembut menyapaku, di waktu dhuha ini setelah aku selesai melakukan sholat dua rakaat hatiku terasa begitu sejuk dan menyenangkan. Namun aku masih merasakan satu perasaan yang mengganjal dalam benakku, tentang pengabdianku kepada orang tuaku, sejak kecil dan dibesarkannya diriku dari keadaan keluarga yang kurang beruntung karena ekonomi kami rendah, dan dengan keadaan keluarga yang cukup besar. Ya...kami 8 bersaudara ketika itu usia kami masih kecil-kecil.


Ditengah hutan yang lebat disana terdapat perkampungan baru yang di huni oleh para transmigran dari berbagai daerah, terutama dari pulau jawa, termasuk bapak dan ibuku waktu itu ikut transmigran sari jakarta dengan membawa 7 orang orang anak-anaknya yang masih kecil-kecil, waktu kami dibawa ke daerah transmigran aku masih berusia 7 bulan, masih sangat kecil.

Tak terbayangkan bagaimana aku dapat dibesarkan dari sebuah kampung kecil yang masih dikelilingi oleh hutan belantara. masa itu belum ada warung atau penjual- penjual makanan, semuanya kami dapatkan dengan hasil menanm sendiri, memanen sendiri, seperti padi, ketela, jagung, ubi , daun singkong, pisang dan lain lain. semuanya kami tanam dan untuk makan kami sehari-hari, sahabat bayangkan ketika saat kami belum panen padi, kami hanya makan ubi, singkong ataupun bubur jagung, dengan sayaur daun singkong, kacang panjang, dan sayur pisang. 

Subhaanalloh...meski dengan keadaan seperti itu kami tetap dapat menjalani hidup bahkan kinikami telah menjadi dewasa meski ketika kecil aku dibesarkan dengan makan-makanan kebun sederhana kami, meski kadang-kadang kami makan ikan perolehan dari memancing, atau menguras kolam.dan sesekali di hari raya kami makan daging ayam potongan dari hasil ternak sendiri, ini adalah makanan yang sangat mewah bagi kami dan sesekali kami mendapat buruan daging rusa yang dagingnya sangat enak dan tidak berlemak...

Rasanya aku ingin mengulang kehidupan masa kecilku yang buatku sangt indah, aku terkadang ikut membantu ayah dalam menanam padi disawah atau menanm bibit cabai, ketimun, talas, dan ll.

kami waktu itu mempunyai sebuah lahan kecil dan sawah dua bidang yang kami garap untuk menanam padi dan memelihara ikan, dan disebelahnya kami buat sumur untuk pemandian, aku ingat sekali ketika bapakku memaculnya dan menggali sumur dan menanam berbagai sayur mayur, tak jarang akupun ikut membantnya sepulang sekolah, tidak hanya dikolam saja kami mencoba menanam padi kamipun punya kebun untuk menanam padi darat.

Yah memang tempatnya cukup jauh dari rumah kami  dia berada di atas bukit yang kami harus melalui hutan dan kebun krbun tetangga untuk sampai disana, namun aku sangat senang tatkala bapak menyuruhku menyusulnya untuk mengantarkan nasi makan siangnya, tempat yang berada persis ditengah bukit itu membuat aku merasakan indah pemandangan hamparan hijau menguning kebun kebun padi milik kami serta tiupan semilir angin disiang hari yang menyejukkan kulit kami, karena saat siang hari didaaerah kami begitu terik dan tropis.

Siang itu setelah aku menemani bapak makan siangnya karena kelelahan aku tertidur di bangku panjang milik saung kami, dibawahnya terdapat tumpukan gabah gabah padi yang telah siap untuk digiling menjadi padi, tak teras aku begitu pulasnya tertidur ampai sampai aku terjatuh dan terguling diantara tumpukan2 gabah itu,,,,hhhmmm aku suka tersenyum jika aku ingat masa itu. Bapakku pun membangunkanku dari tidurku menyuruh untuk pindah keatas kursi panjang itu.

Tidak hanya sekedar mengantar makanan saja aku datang menemui bapakku namun terkadang membantunya memasukkan gabah padi kedalam karung untuk kami bawa kerumah kami, beberapa tahun daerah kami cukup aman untuk menanam berbagai tanaman pangan tapi semakin banyak lahan hutan yang dibuka maka semakin banyak hama binatang babi dan musang memasuki kampung kami, tanaman kami sering dirusaknya dan akhirnya kami gagal untuk memanennya.

Akhirnya orang tua kami beralih pekerjaan dengan menjadi buruh harian menebas hutan yang masih rimba, dengan upah yang sangat minim, walaupun begitu dibelakang rumah kami mash menenam seperti jagung, ketela ataupun ubi, serta kebutuha seperti sayur kangkung, bayam, cabai, bawang semuanya masih ada dipekarangan belakang rumah kami, untuk kami jadikan lauk makan kami.

Sore itu ketika awan masih terlihat mendung bapak mengajakku kekebun belakang rumah dengan membawa bibit pohon pisang dan cangkul ditangannya. Beliau mengajakku dengan alasan nanti Bapak yang mencangkul tapi yang menanam pisangnya titin ya, tangan titinkan dingin jadi tanaman mudah hidup. ujar bapak kepadaku, tidak hanya menanam pisang saja akupun ikut menanam pohon mangga, rambutan dan ubi talas. Subhaanalloh sahabat pisang kami berbuah lebat sekali dan tak pernah putus putusnya berbuah, sehingga siapa saja yang lewat depan rumah kami, dan main kerumah kami hadiahi buah pisang yang matang. 

Kisah ini akan aku abadikan dalam hatiku dan hingga kapanpun takkan aku lupakan. Aku sangat senang dengan suasana hujan dan setelah hujan, maka aku akan berjalan mengitari kebun belakang rumah melihat tetesan tetesan air berjatuhn dari ujung ujung daun tanaman kami dan mendengar suara suara kodok bangkong bersahutan dan suara jangkrik yang kegirangan, biasanya aku akan duduk diam menatap  dan menghayati tetesan air yang jatuh dari dahan daun itu, dan kadang aku langsung bermain kebelakang sumur kami yang terdapat mata air besar jika ada hujan dan disana aku akan duduk merendam diri ku dialiran sungai kecil dibawah pohon bambu dekat sumur kami, tapi moment itu hanya ada ketika terjadi hujan lebat. 

Ya Allah aku sangat Bersyukur atas nikmat yang pernah Engkau anugerahkan pada diriku sehingga aku mampu merasakan betapa indah ciptaan alamMu yang begitu kurasakan...suara desiran angin lembut, dicampur suara suara binatang melengkapi keindahan harmonisasi alam semesta Mu...

Ya Robb... Aku ridu saat bersama Bapak saat hujan kami tetap meneruskan menanam pisang, aku rindu bersama bapak ketika kami memanen padi milik kami, aku rindu disaat aku menemani bapak dikebun  dan di sawah kecil kami. Aku rindu saat makan siang bersamanya dan ternyata menjadi yang terakhir kalinya aku bisa makan bersamanya lagi. Aku rindu saat aku terjatuh lunglai di samping rumahku dengan menabrak kayu kayu besar dan Bapaklah yang mengangkatku dari jatuhku dan memapahku kedalam rumah dan mengurutkan tanganku yang terkilir hampir  patah itu dan dia jugalah yang merawatnya hingga tanganku sembuh seperti sedia kala.

Ya Robb...aku Rindu saat aku harus menyiapkan handuk untuk bapak ketika akan mandi, aku rindu membantu membacakan kode-kode IC ketika beliau sedang sibuk membetulkan TV atau Radio milik tetangga, aku rindu ditanya Bapak Titin ada PR ga? kalo ga bisa nanti bapak bantuin.. aku rindu diingati ketika aku menaruh buku bukuku ditempat yang gelap dipojok rumah kami.

Bapak aku rindu nasihatmu....hingga kini aku besar yang kuingat dari kata katamu  adalah:" kalo ingin belajar kelompok ijinnya ya belajar tp kalo sekedar mau main bilang aj mau main". aku mengambl makna adalah kejujuran dalam ucapan dan tindakan. Bapak bisakah aku menjalankan amanat ini darimu....tidak pernah aku melihat atau merasakan pukulanmu kepada kami, aku cukup tau dengan tatapan matamu yang besar itu bentuklaranganmu terhadap kami dan itu bentuk marahmu kepada kami.

Saat hujan membasahi tanah kampung kami...
Kesejukannya mengendapa dalam hati hingga kini...
kenangan bersama bapak yang selalu kurindui...

Sikapmu yang tak pernah mau menyakiti orang lain, sabar dan begitu sabarnya....
Bapak aku rindu saat kau melepaskan pacet yang menggigit kakiku dan kau usap darahku dengan dedaunan hijau...

Bapak aku rindu saat kau memujiku karena kerajinanku menanam bunga dipekarangan rumah kami...
dan kau puji aku saat aku menanam rumput jepang demi mencegah erosi tanah di halaman rumah kami...
dan saat saat bunga matahari bermekaran di pekarangan itu membuat aku benar benar betah menatap depan rumah kami yang sangat sederhana itu...

Bapak  maafkan aku ketika aku masih suka diam diam memanjat pohon kelapa untuk mengambil kelapa muda, padahal kau bermimpi buah itu bisa menjadi tua dan akaan kau jadikan bibit unggul kembali..maafkan aku Pak karena kami kau begitu marah hingga kau tebangi semua tandan tandan buah itu. amarahmu itu justru membuat kami senang karena pikirku asiik kita malah bisa makan degan tiap hari...tapi kami tak berpikir panjang bahwa engkau begitu kecewa...
Bapak aku rindu menyediakan makan dan minummu ssat ibu sibuk mengurus adikku...

Rabu, 17 April 2013

Kisahku: "Ipin"

kk
Sayang Adik
                      ”Berarti Mba nanti yang bisa bacakan Ipin!”
Masih jelas kuingat mata itu menatap penuh harap. Suara yang semakin lemah dan tak lagi jelas kudengar. Cerita–cerita masa lampau terucap dari bibirmu. Semakin parau suaramu, semakin aku tak mengerti apa yang kau sampaikan. Maafkan Mba mu ya, Dek! Harusnya aku menyadari kalau malam itu adalah hari terakhirmu berbincang dan bercerita bersamamu.
Semakin lekat kutatap wajah dalam bingkai bisu itu. Tak ada yang berubah sedikitpun dari senyummu. Tetap seperti senyum yang dahulu. Lembut dengan tatapan mata dan alis elangmu yang tajam. Karena itu pula semakin mengalir deras air mata ini.
Aku perempuan kecil yang merasa dirinya dewasa, selalu berlagak bijak dan dewasa kala berbicara dengan  saudara-saudaraku. Sok berjiwa kuat dengan segala terpaan hidup, namun sebenarnya akulah si perempuan kecil yang cengeng lagi lemah.

4  Desember 2012
Ipin kangen sama Mba, hari ini jadi pulang, kan? Itu sms dari adik yang sudah rindu menunggu kepulanganku.
Iya Dek! Mba akan pulang buat kamu dan Emak. Sabar ya! Mba masih di jalan nih.  Balasku.
Tak pernah kuduga rumah sakit harus jadi tempat kami bertemu pagi ini. Aku bingung. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kulontarkan. Aku langsung memeluk Ipin saat bertemu Ipin di pintu parkir RS.
“Mba sudah dari tadi sampainya?” tanya adikku polos.
“Alhamdulillah! Ipin sakit apa?” tanyaku sambil menatapnya haru. Aku tak bisa menyembunyikan rasa rindu pada adikku ini. Kami bertemu di RS Daerah ini bukan tanpa alasan, Kakak sedang mengurus surat rujukan untuk Ipin. Ya, Ipin harus dirujuk ke RS Provinsi.Ya Allah, jangan biarkan kondisi Ipin memburuk.
Ya Allah, terima kasih aku masih bisa dipertemukan dengan Ipin. Sembuhkanlah sakitnya, ya Rabb!
***
“Tin! Ipin sakit. Emak bingung dia sakit apa. Sudah tiga dokter kita datangi tapi Ipin belum sembuh juga,” keluh Emak sambil memelukku erat. Lelehan air mata membasahi wajah keriput Emak. Sungguh, bisa kurasakan sedih dan pilu yang Emak alami. Padahal dulu Emak adalah wanita yang jarang sekali menangis. Ah, aku baru sadar, ternyata tiga tahun sudah aku meninggalkan kampung halamanku ini.
“Emak yang sabar ya! Sekarang Titin sudah pulang. Titin pulang untuk Emak, untuk menguatkan Emak dan semuanya. Insya Alloh kita semua bisa menghadapi ujian ini, Mak!”
Ya Allah, berikanlah aku kekuatan untuk menolong Emak dan saudara-saudaraku di sini.
***
7 Desember 2012
Suara deras jutaan butiran air dari langit yang jatuh ke tanah menemani keberangkatan kami menuju RS Provinsi. Kebun-kebun karet, jalanan yang licin oleh hujan, dan malam pekat nan gelap tak menghalangi kami menempuh 5-6 jam perjalanan untuk mengantarkan Ipin ke RS.
Sebelum berangkat, Ipin menumpahkan segala kangennya padaku.
“Ipin kangen banget sama Mba Titin. Mba Titin mau ya jagain Ipin nanti di rumah sakit?” harapnya.
Aku mengangguk takzim dan mengusap wajahnya. Untunglah, karena kepulanganku, Ipin yang awalnya tidak mau berobat ke RS kini sudah mau dibujuk.
Tri, teman SD ku yang  seorang bidan dan ikut membantu merawat adikku, bercerita.
“Tin, Ipin sekarang beda sekali. Waktu kamu di Jakarta, dia seperti kehilangan semangat hidup dan harapan untuk sembuh. Kondisinya juga sangat mengkhawatirkan, sudah dibujuk untuk berobat jawabannya selalu menolak. Tapi subhaanallah, begitu ketemu kamu, dia terlihat lebih bersemangat dan optimis,” cerita Tri panjang lebar. Tri tak kuasa menahan air mata sambil bercerita. Dia ingat betul saat-saat kritis Ipin beberapa hari sebelum kedatanganku. Dan kini keadaan Ipin sudah jauh lebih baik. Ah, aku tak sadar sejak Tri mulai bercerita, air mataku juga deras mengalir.
Ya Allah, kuatkanlah aku demi keluargaku yang kucintai ini!
***
Sejenak kami beristirahat di perjalanan dan sholat tahajud di sepertiga malam itu. Dan di situlah Ipin akhirnya menumpahkan semua perasaannya pada Emak.
”Mak, maafin Ipin yak! Selama ini kata-kata Ipin sering nyakitin perasaan Emak. Sering ngomong kasar, suka membentak emak. Doain Ipin ya, mak! Ipin ingin sembuh! Ipin sudah nggak kuat. Ipin mau pasrah aja. Maafin Ipin ya, Mak!” seru Ipin tulus sambil bersujud mencium kaki Mak.
”Iya Emak udah maafin Ipin. Sekarang Ipin harus semangat dan kuat ya, supaya cepat sembuh!”
Aku yang duduk di sebelah Ipin mencoba mengusap pundaknya lembut. Memberinya semangat.
“Yakin Allah akan memberikan kesembuhan ya, Dek!” sambil kurangkul tangannya untuk membantunya bangkit berdiri. Jujur aku iri akan tindakannya yang begitu mulia. Entah jika aku di posisinya, apakah bisa melakukannya atau tidak.
Tolong jadikanlah keinsyafan Ipin sebagai jalan buat kesembuhannya, ya Rabb!.
***
Jum’at Malam  Januari 2013
“Aaarrrggghhhh!”
Ipin mengerang kesakitan. Tubuhnya semakin tegang. Matanya melotot. Giginya bergemerutuk menahan sakit. Tangannya mengepal. Aku tak bisa membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan Ipin. Aku dan kakakku menuntunnya untuk terus berzikir. Tapi Ipin terus saja mengerang kesakitan.
Untunglah perawat segera datang ke ruangan. Dia lalu segera memasangkan tabung oxigen ke hidung Ipin dan menyuntikkan obat ke dalam selang infusnya. Perlahan kesadaran adikku mulai memulih, tubuhnya sudah tidak mengejang lagi.
Segala puji hanya untukmu ya Allah. Berikanlah kesembuhan kepada Ipin, ya Rabb!
***
Limphoma Malighna Non Hodgkin
Tubuhku lemas seketika membaca hasil diagnosa penyakit yang diidap Ipin. Kanker kelenjar getah bening. Aku hanya bisa husnudzon dan berharap Allah masih memberi jalan untuk kesembuhan adikku ini.
“Yang sabar ya, Mba! Mba harus lebih kuat! Kasih dukungan adiknya. Hidup dan mati sudah takdir Allah. Saya pamit duluan ya, Mba!” hibur seorang ibu sambil menepuk pundakku.
Ah, aku hanya bisa mencoba tersenyum dan menahan tangis. Allah Maha Tahu, seberat apapun beban yang kurasakan, jauh lebih berat ujian yang harus dihadapi adikku dalam menahan rasa sakitnya. Tidak, aku tidak boleh lemah begini.
Ya Allah, Kau memberikan beban sesuai dengan kesanggupan hambaMu. Aku tahu aku sanggup menghadapi semua ini. Kuatkanlah aku, ya Rabb!
***
Malam itu sedikit ada kesalahpahaman antara aku dan adikku. Aku agak teledor ketika menadah muntahan Ipin ketika dia mual. Ipin begitu tega menganggap aku tidak ikhlas merawatnya. Dia tidak ingin dirawat olehku. Dia ingin agar Emak saja yang berada di kamar. Padahal selama ini dia selalu bersamaku sejak pagi. Sarapan dan minum obat semua aku yang menyuapinya. Aku kecewa dengan sikapnya yang mulai tidak sabaran. Aku keluar ruangan dan Emak menggantikanku menungguinya.
Malam itu tak sedikitpun aku menengok ke ruangannya. Aku takut dia masih marah padaku. Namun esok sorenya aku memberanikan diri untuk masuk dan menungguinya, menanyakan apa saja kabar tentangnya, seolah tak pernah ada kekecewaan yang pernah terjadi.
Setelah sholat maghrib Emak tepat berada di sebelah kanannya sedang mengipasinya. Aku duduk menggelar karpet tepat dibawah kaki kanannya, sambil tilawah Al Qur’an. Ipin meminta Emak memanggilku untuk mendekatinya.
“Mba Titin sini, sebentar aja!” panggilnya sambil mengulurkan tangan ke arahku. Segera aku beranjak menghampirinya, tangannya segera menggamit tanganku menyalami. “Ipin minta maaf ya, Mba. Ipin sadar suka marah-marah dan bikin sakit hati Mba. Ipin harusnya bersyukur... semua orang ikhlas merawat Ipin. Ipin kasihan sama pasien di sebelah itu, Mba. Sudah terbaring lemah tapi keluarganya tidak ada yang mengurusi.”
“Mba mau maafin Ipin, kan? Ipin janji tidak akan marah-marah lagi, tidak akan bentak-bentak lagi, Ipin mau nurut apa kata Mba, tidak akan melawan lagi. Ipin janji, mba! Mulai sekarang Ipin mau berubah jadi lebih baik dan ikhlash. Ipin ikhlas atas keputusan Allah, Mba mau bantu ingetin Ipin, kan?!”
“Iya, Mba udah maafin Ipin. Alhamdulillah Allah sudah kasih hidayah buat Ipin. Insya Allah Mba akan bantu ingetin Ipin terus. Sekarang Ipin harus yakin Allah bakal ngasih kesembuhan yak?” kataku sambil kuusap bahunya yang semakin kurus. Aku sungguh terharu. Aku bingung harus berkata apa lagi.
Kakakku datang lalu dipeluknya adikku dengan penuh kasih sayang, kali ini aku seakan merasakan betapa kakakku begitu menyayanginya seakan-akan tak ingin kehilangan adik laki satu-satunya, yang selama ini telah menjadi teman sharing dan berbagi tanggungjawab di dalam keluarga kami. Aku ingin keluarga ini tetap utuh dan dalam lindunganmu selalu, ya Allah.
Berikanlah selalu hidayah pada keluargaku ini, ya Rabb!
***
Perubahan drastis adikku membuat semangat baru kami timbul kembali. Aku selalu meyakinkan dia untuk sembuh, dan dia pun yakin akan kesembuhannya. Merawatnya, menyuapi makannya, meminumkan obatnya sudah menjadi rutinitasku setiap hari, bercerita dan memotivasinya sudah harus kusiapkan setiap waktu bila dia bertanya.
”Insya Allah Musanah Arifin besok bisa kemoterafi sementara ya. Alhamdulillah kondisinya sudah lebih baik,” kata dokter pada kami. Berita itu sungguh kabar gembira yang sangat berharga bagi kami.
Siang itu adikku masih sempat bercerita tentang cita-citanya yang ingin membuka usaha  dan berjanji akan menjadi orang yang benar-benar baik. Namun sayangnya sore ini dia terlihat agak lemah karena diare. Dia kembali mengeluhkan sakit perutnya.
“Waktu Ipin sakit perut, Mba ke mana? Ipin sampai teriak-teriak lho waktu bilang astaghfirullah, karena rasanya sakiiiiit banget, Mba.  Kayak udah nggak bisa nafas jadi zikirnya keras aja supaya Ipin tetap sadar. Kalau mati itu rasanya sakit kayak gitu ya, Mba?” tanya dia.
“Iya. Rasul saja masih merasakan sakitnya kematian, apalagi kita yang hanya manusia biasa? Namun semua tergantung amal kita, Dek. Pilihannya apakah kita su’ul khotimah atau khusnul khatimah. Kenapa ipin tanya begitu? Sekarang kita perbanyak zikir dan istighfar sama Allah. Kalau kita ikhlas dalam ujian ini maka Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita. Insya Allah Ipin akan sembuh,” nasihatku padanya.
“Iya, Mba. Ipin akan nurut apa kata mba. Ipin juga sudah ikhlaaaaaasss banget. Kalo Allah kasih sembuh alhamdulillah, tapi kalo Ipin harus cepat menghadapNya, semoga Allah telah mengampuni dosa-dosa Ipin ya, Mba. Ipin merasa lebih tenang sekarang.”
Entah kenapa seperti ada angin yang lembut membelai leherku. Hatiku berdesir. Entah karena apa. Aku mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk. Aku harus mendukung Ipin.
“Ipin harus yakin bahwa semua penyakit Allah turunkan juga obatnya. Perbanyak istighfar ya, Dek! Percayalah Allah menggugurkan satu persatu dosa Ipin, yang penting ikhlas dan sabar ya!” Nasihatku siang itu. Ah, entah apakah aku bisa sekuat Ipin jika berada di posisinya.
Ya Rabb, aku tak kan membiarkan pikiran buruk membuyarkan harapanku padaMu. Tolong! Tolong ya Allah! Sembuhkanlah Ipin!
****
Sejak perbicaraan siang ini, kulihat semangatnya untuk sembuh luar biasa. Malam ini dia harus istirahat dengan cukup karena besok akan ada kemoterafi. Sebisa mungkin tensi dan Hb darahnya normal. Sebelum beristirahat dia banyak sekali bercerita.
“Mba Titin sini... deket Ipin. Mba punya musuh ga?”
“Ga ada, emangnya kenapa kok tanyanya begitu?”
“Berarti hanya Mba Titin yang bisa membacakan Ipin ya, Mba.”
”Membacakan apa, Pin? Ya sudah nanti Mba bacakan yang penting hari ini Ipin istirahat yang cukup, ingat besok sudah mau di kemo ya.”
“Iya... bacain Ipin ya, Mba. Ipin mau istirahat. Ipin janji mau nurut apa yang dibilangin Mba.”
Kudengar lantunan istighfar dari bibirnya. Lalu kulafazkan ayat-ayat Qu'ran sambil kuusap-usap keningnya. Alhamdulillah ia tertidur pulas. Karena aku sangat mengantuk akhirnya aku nyalakan MP3 ponsel untuk murottalnya dan kuletakkan di atas bantal dekat kepalanya.
Baru sejenak ku memejamkan mata tiba-tiba Ipin terbangun. Namun  ternyata itu hanya igauannya saja. Bicaranya agak aneh, agak susah kupahami. Dia hanya bilang kok susah tidur dan serba salah posisi berbaringnya
“Terus zikir dan istighfar ya, Ipin!” kataku.
“Iya, Ipin mau istirahat. Ipin mau nurut apa yang Mba Titin suruh. Ipin tidur ya, Mba. Astaghfirulloh, astaghfirulloh, astaghfirullohal 'adhiim!” Sayup-sayup suara zikirnya menghilang karena dia sudah tidur.
Ya Rabb, aku tak pernah kehilangan harapan padamu. Sembuhkanlah Ipin! Kumohon!
***
Di sepertiga malam mendekati subuh, aku bangunkan Emak dan kakak iparku untuk bergantian menjaga Ipin. Aku ingin ke mushola karena sejak maghrib aku menjaga adikku dan belum sholat isya.
”Jangan lama-lama ya, Tin!” kata kakak iparku.
”Iya kak!” jawabku.
Setelah selesai sholat Isya, tiba-tiba hpku berbunyi. Ada panggilan masuk dari kakak iparku. Bergegas langsung kuangkat.
”Assalamu’alaikum, Kak?” seruku.
“Tin cepetan ke sini! Ipin sudah meninggal,” kata Kakak parau.
“Aaa.. aaapaa... innnalillahi, ya Allah,” lirihku. Serta merta kulepas dan kulempar mukena yang kukenakan saat itu. Tak mampu kubendung air mataku. Aku berlari menuju ruangan kamar adikku dirawat. namun ada kejanggalan saat aku tiba di sana. Tidak kutemukan para perawat sibuk. Biasanya jika ada yang meninggal pasti mereka ramai untuk mengurus jenazahnya. Aku perlahan masuk dengan wajah kebingungan, sampai-sampai dokter laki-laki itu mengira aku adalah Coas yang sedang piket.
Sambil terus menyusuri arah ruangan, kuintip kamar tetap sepi. Kudapati adikku sedang tertidur pulas sekali. Ada emak dan kakak iparku di sana sedang membetulkan tempat tidur adikku, aku masih dibuat bingung.
“Kak, ada apa kok tadi telpon?” tanyaku saking bingungnya dengan suara yang di telpon tadi,
“Ooo itu kakak tadi bilang jangan lama-lama Arifin BAB lagi,” jelasnya.
Masih bingung namun ku simpan kebingunganku saat itu.
Ya Allah, apakah ini firasat?
***
Akhirnya kudampingi adikku yang tertidur dan sedikit demam. Lalu ku kompres dengan air dan handuk di kepalanya. Namun anehnya kenapa sedari tadi matanya seperti melihat tapi jauuuh sekali? Karena kupikir dia silau dengan lampu maka wajahnya sedikit kututup dengan handuk.
Azan subuh berkumandang. Aku dan Emak bergantian sholat di samping tempat dia berbaring. setelah itu aku tilawah Al Qur’an, kucoba goyang-goyangkan tubuh Ipin untuk membangunkannya, tapi anehnya ia tak mau menyahut. Jantungku seketika berdegub kencang.
“Panggil dokter, Kak! Panggil dokter!” teriakku panik.
Seraya aku menuntun mengucapkan kalimat tahlil di telinganya, kuusap-usap keningnya yang entah mengapa tak sadarkan diri juga. Emak terus mengikutiku mengucapkan tahlil. Namun kulihat bibirnya bergerak-gerak lalu tubuhnya seakan-akan jatuh terkulai lemah di atas tempat tidurnya. Tidak ada lagi denyut nadi. Hanya suara nafas yang berat yang kudengar, “Astaghfirulloh... hal ‘adhiim!”
Gerakan bibirnya yang tadi adalah gerakan terakhir yang kulihat. Adikku telah pergi menghadap Sang Khalik. Dia telah meninggalkan kami. Dia mendahului kami dalam usia yang begitu belia. Emak memanggil-manggil namanya diiringi isak tangis yang memilukan.
“Pin, jangan tinggalkan Emak! Ipin banguuun! Ini Emaaak, Piiin!” tangis Emak lirih.
Aku hanya mampu memandangi wajahnya dengan tangisan tanpa suara. Kuusap wajahnya dengan lantunan doa. Berulang-ulang kumohon agar Allah mengampuni dosa-dosamu, Ipin. Semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik disisNya. Selamat jalan adikku... semoga cahaya hidayah menjadi penerang jalanmu di sana, semoga amalmu menjadi temanmu di mana kau takkan bisa bersama-sama kami lagi.
Kulihat Emak sangat terpukul saat itu. Lantas kupeluk Emak, menguatkannya.
“Innalillahi wainna illaihi roji’un! Emak yang sabar. Allah lebih menyayangi Ipin. Ini yang terbaik buat dia, Emak. Kita harus ikhlas semuanya dengan keputusan Allah. Ipin juga sudah ikhlas dengan semua ini, Emak!” kataku menguatkannya.
Ipin, moga Allah memberikan tempat yang mulia disisiNya bersama orang-orang yang sholeh dan para syuhada yang syahid.

Dek... Mba akan teruskan pernjuanganmu. Biarkan Mba menjadi  penerus cita-citamu yang tertunda.
Menjadi manusia yang lebih baik lagi, selagi roh masih dalam jasad.
Terkirim do’a dan Fatihah selalu  untukmu di sana.
Kami menyayangimu, Dek!


Rabu, 16 Januari 2013
Kau Meninggalkan kami semua


Jumat, 30 November 2012

Puisi: Rindu Illahi



Ku gapai gemintang yang terang
Dalam gelap dan heningnya malam
Ku sentuh kedamaian qolbu
Dalam setiap detak nadiku...

Robb...kuingin jiwa ragaku
Terpenuhi kerinduan kepada-Mu
Ku ingin berada dimana hati khusyu’
Terpaut dalam keheningan, kesyahduan
Dan keindahan malam
Dalam merajut benang kasih
Syurga yang hakiki dimana aku takkan pernah ati...


                                                                                    By : titis as_sausan

Allah Aku Rinnnnnnnduuuuuu ....
Ketika mata ini menjadi saksi penyesalan atas kesalahan, dan dosa...
Saat aku terpekur dalam khusyu’nya malam yang syahdu...
Saat bintang bersinar dan menerangi gelapnya hatii..
Saat gerimis-gerimis air mataku terus mengaliri pipi ini...
Saat semua beban dan dosa seakan kau ringankan dan Kau ampuni...
Saat tubuh ini seakan ringan dan terbang dalam bayang2 syurgaMu...
Allah ketenangan dan kebahahagiaan dunia dan akhirat itulah tujuanku....
Jangan kau jauhkan aku Ya Allah...biarkan jiwa ini selalu dalam dekapMu...
Biarkan aku tenggelam dalam syahdunya bersamaMu...


"Arti Sahabat"


                                                                 Jum’at, 20 Mei 2011
Alhamdulillah hari ini kami menyelesaikan presentasi kami yang pertama yaitu mata kuliah PTIK, ya meski masih banyak kekurangan disana sini, buat kami ada harapan untuk perbaikan dalam episode-episode selanjutnya, Semoga Allah menilai kami bukan hanya sekedar  ingin dipuji, Riya’ na’udzubillah ya Allah. Kami mohon ampunanMu, dari tingkah dan niat kami yang tak lurus ini,ya tetapkan aku menjadi seorang yang tawadhu’ dan rendah hati, beri hambaMu kesempatan untuk lebih banyak berbuat yang manfaat bagi keluarga dan masyarakat, Ya Allah Aku mohon jangan Kau buat kami lalai dan  terbuai dengan keindahan yang menghilangkan kenikmatan saat aku mahabbah kepadaMu, ya Allah Semoga Engkau berkahi orang tua kami, sahabat dan teman kami yang telah mencurahkan kasih sayang tulus dan ikhlas kpdku...dan teman2 yang telah dengan rela menshare sebagian dariilmu mereka yang telah Kau karuniakan..
Semoga ukhuwah ini terjalin karena ridho Mu sehingga Kau kekalkan kami dalam hal kebaikan dan saling mengingatkan dalam kebahagiaan dunia akhirat, ya semoga kami dapat saling memotivasi dalam cintaMu,...
Sahabat-sahabatku,,,keinginanku terdalam kpd kalian adalah aku ingin sekali kalian dan aku bisa saling mensuport dalam perbaikan diri untuk kehidupan yang lebih baik dunia dan akhirat, terutama mengingatka dalam perbaikan ibadah, dan akhlak kita masing-masing.
Sahabat-sahabatku...aku ingin jadikan ukhuwah dan persahabatan ini sebagai sebabnya kita kelak diijinkannya masuk syurgaNya.amin..
Jujur Ya Allah aku rindu sekali ketika hati kami berada di ketinggian  puncak keindahan dan manisnya iman,,, sehingga mata, telinga, tangan kaki bahkan hati ini menjadi khusyu’ dan merasakan betapa Engkau dekat denganku,,,ketenangan batin dan kesejukan jiwa,,,


Butiran Rindu Untukmu BU...


Bu...
Masih terbayang jelas saat punggung tanganmu kukecup...
Dan kucium kedua pipimu yg mulai terlihat mengendur...
Aku rindu ritual seperti itu bersamamu Bu...
Yang harusnya setiap hari aku lakukan...
kini harus tertunda...

Bu...
Teringat saat ku coba mengobati luka dikakimu...
Dan saat itu Kau terlihat manja padaku...
TerIngat saat kukenakan kaos kaki itu dikakimu Bu...
Dan kaupun seperti ingin bermanja sekali hari itu bersamaku...
Mungkin karena kau akan cukup lama disana...
Sehingga kau berusaha mengobati rinduku ...
Dengan memberikan kenangan manja itu untukku...

Bu...
Semoga Kau baik-baik disana...
Untaian do'a-do'aku untk keselamatanmu...
Akan selalu kulantunkan untukmu Bu...
Biarlah rinduku akan kusandarkan dalam do'a- do'a malamku...
Bersama Robbku...

Segeralah kembali ya Bu...(I Miss U Mother)

Senin, 26 November 2012

Wahai Ibu yang Berkaca Mata ... Maafkan aku

Siang ini hari tidak begitu panas justru terasa sangat sejuk walau jam telah menunjukkan pukul 12.45..hhmm Jakarta jarang sekali terjadi cuaca yang seperti ini, setelah persiapan untuk rapat KPU di Kampus aku juga sudah mempersiapkan untuk langsung kuliah sore ini.

Bismillahi tawakaltu'alalloh...aku melangkah keluar rumah. Sampai dijalan naik angkot Mikrolet 37 yang kesenen, sampai terminal senen maksudnya aku langsung mencari mobil Mikrolet 01 kp. Melayu yang nantinya melewati salemba tempat kampusku berada.

Alhamdulillah langsung dapat mobil yang di tuju, masih cukup sepi bisa langsung ambil posisi aman deh...setelah duduk tiba-tiba pandanganku mengarah kehadapan persis seberangan tempat dudukku, ada seorang ibu dengan kaca matanya, dengan perawakan tubuhnya cukup dibilang kurus, pakaiannya pun tidak lusuh sekali namun terlihat usang, Ia menatapku aku kaget dan tersadar.

Ternyata aku menyadari kalo rok panjangku sedikit naik sehingga kaos kaki di betisku terlihat sedikit, buru-buru langsung aku turunkan sambil tersipu malu, astaghfirulloh...kok bisa ya? dan baru sadar sekarang. tapi bersyukur tatapan ibu itu telah menyadarkanku.

Masih tersipu malu dengan peristiwa tadi, akhirnya aku amati ibu tersebut, kenapa tatapannya datar saja ya, tak ada reaksi apapun terhadapku. dan tatapanku akhirnya menuju satu titik di sebuah pergelangan tangan kanannya yang terbalut perban usang. dalam benakku apa yang terjadi dengan keadaan ibu ini?? kasihan sekali ya Allah, melihat mata, fisik dan penampilannyapun cukup membuat hati ini pilu.

Seperti tidak terurus, ya Allah aku hanya mampu berdo'a semoga hal seperti ini tidak terjadi dengan Ibiuku, dan rahmatilah ibu ini Ya Allah. Tiba-tiba aku disadarkan dengan pembicaraan ibu di sebelah tempat dudukku, " Ibu turun disini ya ", katanya mengarah pandangan ke Ibu berkaca mata tadi," Pak Sopir turunnya yang deket dengan angkot 04 ya, bantu ibu ini, saya tidak bisa anter, karena tujuannya beda", sopirpun mengangguk-anggukkan kepalanya. 

Lalu ibu berkaca mata itu berkata, "bu bantu saya ya, saya mau ke arah percetakan negara yang deket lampu merahnya, maaf bisa bantu saya ke angkot 04, karena saya tidak bisa melihat".

Deg...jantungku serasa sesak mendengar ucapan ibu berkaca mata ini, 'Ya Robb,,,kasihannya beliau kemanakah keluarganya, sehingga matanya yang tak dapat melihat dia harus berjalan sendiri, pikiranku teringat dengan sosok ibuku lagi.

Ya Allah  jangan sampai kelak hal ini terjadi dengan Ibuku,,,kami harus menjadi anak yang berbakti,,,,yang mengasihi orang tuanya, apalagi saat telah lanjut usia", lalu aku beranikan diri menawarkan untuk mencoba menggandengkan tangannya bersama satu orang mba-mba yang turun dari mobil tersebut, " sini bu saya bantu, kuraih lengan tangannya yang kurus, kutuntun langkah kakinya yang meraba, hatiku seakan sesak sehingga tak mampu berucap sepatah katapun, hening, sepi tanpa bicara.

Namun mba yang ikut membantu mulai membuka pembicaraan," Mba mau kemana?", tanyanya 

"Saya mau ke Salemba Tengah  BSI 22 Mba, mba mau kemana memang?" tanyaku

"Ingin ke rutan salemba," jawabnya
"Mba mau antar ibu ini?"
"Boleh, Mba mau antar juga?"

Saya bingung ketika ditanya seperti itu, saya sudah telat setengah jam untuk rapat hari ini, dan saya juga ga lewat lampu merah percetakan negara, hhmmm....ingin sekali menolong tapi galau ga jelas, akhirnya egoiskupun keluar.

 "Sebenarnya saya ingin membantu, tapi saya sedang ada urusan, maaf ya mba, mba bisa bantu ibu inikan? "

Memastikan agar mba ini bisa benar-benar mengantarkan ibu ini ketempatnya.

"Iya mba ga pa pa nanti saya antar kebetulan saya lewat tempat ibu ini, makasih ya mba..", katanya

"Saya yang bilang terimakasih mba sudah membantu ibu ini".

lalu aku berpisah darinya....
Ada kesedihan hati karena tidak dapat menolongnya hingga ke tujuan, semoga Allah SWT menjaga ibu ini selalu ...aamiin ya Allah...


Ku raih lengan tangannya yang kurus, 

Ku tuntun langkahnya...
Sepi, sunyi, hanya derap langkah-langkah kami yang terdengar...
Aku seperti terhipnotis dengan peristiwa siang ini...
Ada desiran kepiluan dalam lengan yang ku genggam...

dari Mata fisiknya yang tak lagi mampu melihat indahnya dunia...
dari tubuhnya yang kurus, ada sepenggal derita dalam hidupnya
namun ada banyak pelajaran ba
giku saat bertemu denganmu...
desiran rasa rindu tiba-tiba menguasai diriku...
desiran rindu saat ku genggam tangan ibuku....
Tangan ibuku yang begitu hangat dan nyaman bagiku....

wahai ibu yang berkaca mata disana...
maafkan aku...
hari ini aku tak bisa membantu menuntunmu hingga ketempat tujuanmu...
hanya sampai disini kumampu menuntunmu ...
wahai Ibu yang berkaca mata disana...
Ada rasa bersalah saat ku lepaskan genggaman tanganku darimu...
Sekali lagi maafkan aku ...

Ibu yang berkaca mata disana...
Semoga Allah SWT. melindungimu, menunjukkan cahaya bagi langkahmu didalam gelapnya mata fisikmu...
Semoga Allah SWT. senantiasa manjagamu, merahmatimu... menjadikan hatimu sebagai lentera disetiap langkahmu...

*by: Titis As Sausan @Salemba jakpus

Minggu, 25 November 2012

" Muslimah Itu...."


1.       #muslimahitu | mendahulukan kecantikan dengan akhlak baik dan merawat kecantikan fisik
2.       #muslimahitu | yang diamnya menjadi pesona bagi mukmin dan suaranya sanggup melantakkan pemikiran kufur
3.        #muslimahitu | yang menghargai dirinya, dan hanya mempersembahkan dirinya pada satu-satunya manusia yg layak yakni suaminya
4.        #muslimahitu | dicemburui bidadari surga dengan menjaga shalat dan puasanya, baik yg wajib pula yg sunnah
5.       #muslimahitu | dimuliakan karena ia memuliakan diri, dan dihinakan karena ia yang memulai menghinakan dirinya
6.        #muslimahitu | memiliki harga, dan menentukan harganya sendiri, dan mereka akan dibeli oleh yg mampu membayar harganya
7.       #muslimahitu | lepas dari anggapan manusia tentang dirinya, anggapan Allah kekasihnya jauh lebih penting baginya
8.        #muslimahitu | bukan yg kerap berdiri di cermin, namun ia lebih sibuk mematut diri dalam bayangan para shahabiyah dan istri Nabi saw
9.       #muslimahitu | harus tegas pada pria yg belum jadi pasangan hidupnya, bukan berlembut-lembut sehingga diremehkan
10.   #muslimahitu | lebih banyak hafalan Al-Qur'annya dibanding hafalan lagu-lagunya
11.   #muslimahitu | tidak menggalau dan tidak membuat orang lain galau dengan tingkah polahnya
12.   #muslimahitu | karunia terbaik dari Allah buat lelaki, perhiasan dunia terbaik bagi lelaki, tanpanya lelaki tiada lengkap
13.    #muslimahitu | lebih banyak dipilih oleh lelaki karena sikap keibuannya, bukan karena bisa selesaikan persamaan matematika
14.   #muslimahitu | tak anggap boyband kemayu keren, tapi anehnya menganggap darah syuhada dan tinta ulama itu keren
15.   #muslimahitu | lebih banyak tangisannya atas penderitaan umat dibanding tangisannya atas dua sejoli di sinetron korea
16.   #muslimahitu | menahan lisannya lebih banyak, dan berdzikir lebih sering, belajar lebih banyak, dan beribadah lebih sering
17.   #muslimahitu | penyejuk pandangan karena pakaian mereka yg menutupi badan, penyejuk hati mereka menjaga pandangan
18.   #muslimahitu | bahan olok-olokan bagi orang pandir, bahan pembicaraan bagi aktivis lelaki palsu, dan pengingat malu bagi lelaki mukmin
19.   #muslimahitu | selalu siapkan diri untuk menjaga keluarganya kelak hindari neraka, dan tunjukkan jalan menuju ke surga
20.   #muslimahitu | bahagianya saat dia mampu sabar dalam musibah | dan senangnya saat mampu syukur dalam nikmat
21.   #muslimahitu | meneteskan airmata saat bahagia dan sedih semudah ia meneteskan airmata saat takut adzab Allah padanya
22.   #muslimahitu | bisa mulia karena parasnya Aisyah, bisa mulia karena bijaknya Khadijah, bisa mulia karena sabarnya Shafiyyah
23.   #muslimahitu..? bagaimanakah menurut kamu? >> jadilah duta Islam, karena wanita lebih dipantau daripada pria, tampikan dirimu :)


(dari tweet Ust. @felixsiauw 10 Mei 2012)